Monthly Archives: September 2013

Menatap Pagi

Mentari Pagi menampakkan indahnya
Gelombang riuh kehidupan terlihat di jalan
Tampak rapi mereka menyusuri arus pagi
Menatap sebuah tugas yang dimulai dari pagi

Semangat pagi menyahut di berbagai penjuru
Menandakan perbaikan ingin dimulai segera
Tentang kehidupan dan juga akhirat
Meski kadang yang ghoib yang masih terfikir

Udara segar menyambut indahnya mentari
Mentari yang kian menyapa penduduk negeri
Negeri beraksi untuk kepentingan diri dan yang lain
Lain hati lain orang, lain pula pekerjaan

Menyongsong pagi dengan muka cerah
Berharap bisa mendapat lebih baik
Hidup kadang tentang masa depan
Yang mungkin dari tatapan di masa pagi
–
Selamet Hariadi – 12 September 2013

Nada-nada kehidupan

Mengalun dalam irama komunikasi
Mengasah diri pada tataran interaksi
Eja mengeja kepribadian dalam aksi
Sebagian jiwa masih terperangkap ilusi

Memilih tangga lagu yang pas dengan hati
Dalam kepungan berbagai macam dunia interaksi
Coba menyalur nilai-nilai yang penuh arti
Menyerap makna menyamankan hati
Indah… namun tetap berdasar tuntunan Ilahi

Interaksi nada menimbulkan reaksi
Banyak pilihan untuk disikapi
Tak hanya soal ego diri
Karena hidup banyak sisi

Tiap nada bergulung mungkin ada emosi
Sesuatu yang memerah namun bukan menggembosi
Karena hidup tentang durasi
Nada indah selalu nyaman dalam hidup dan mati

Banyak sisi butuh penyikapan aksi
Meski berangkat dari berbagai nada embarkasi
Tetaplah untuk tujuan yang berarti
Untuk diri, semua makhluk dan tentunya Sang Ilahi
–
Selamet Hariadi – 10 September 2013

Miss World, Enyahlah dari Negeriku!

 

Miss World… entah kenapa kau datang saat tahun politik
Miss World… entah kenapa kau datang saat banyak yang menolak
Miss World… entah kenapa kau memilih negeriku
Miss World… entah kenapa kau tak memilih wanita yang gembrot
.
Miss World… semoga ada niat mulia dari adanya dirimu
Miss World… semoga ada setitik kecerahan untuk semuanya
Miss World… semoga nilaimu tak hanya kekayaan segelintir orang
Miss World… semoga tak hanya bentuk tubuh yang kau nilai
Miss World… semoga kau pahami aspirasi negeri ini
.
Miss World… jangan kau buat beda di negeri ini kian meruncing
Miss World… jangan kau kembangkan potensi hanya sebagian saja
Miss World… jangan kau buat kami saling lempar piring
Miss World… jangan hanya untuk sehari kau bilang negeri ini bersahaja
.
Miss World… ikutkan semua kepentingan, bukan hanya gerakan dalang
Miss World… ikutkan nilai norma, bukan hanya prinsip ekonomi
Miss World… ikutkan yang mayoritas, bukan hanya menggandeng minoritas
Miss World… ikutkan tujuan kebaikan semua, bukan hanya komunitas
.
Miss World… lakukan saja tertutup, agar bias acaramu tak jadi kontra negeri
Miss World… lakukan saja tertutup, tak usah promosi acar ke pelosok negeri
Miss World… lakukan saja tertutup, jika ajangmu hanya diyakini sebagian negeri
Miss World… lakukan saja tertutup, agar kau tak semakin melukai hati mayoritas negeri
.
Miss World… enyahlah dari negeri ini jika tujuanmu hanya pencitraan politik
Miss World… enyahlah dari negeri ini jika norma negeri ini tak kau hargai
Miss World… enyahlah dari negeri ini jika pemenangmu berdasar intrik
Miss World… enyahlah dari negeri ini jika niatmu busuk diluar terlihat santai
.
Miss World… maaf jika ada yang berbeda melakukan aksi protes padamu
Miss World… maaf jika penolakan tak kompak disuarakan di seluruh negeri
Miss World… maaf jika negeri ini tak semuanya menyukaimu
Miss World… maaf yang banyak atas perbedaan, semoga kau bisa mengerti.

Jiwa yang Lelah

Duhai Jiwa yang lelah…
Apakah Engkau punya agama?
Agama yang jadi Sandaran hati di setiap koyakan peluru
Mengapa Engkau Menelusup menjadi serupa namun tak sama?
Gayamu Menampar kehidupan dengan cara perbedaan
Perangaimu Membuat Beda untuk mendapat Perhatian
.
Tahukah Engkau sahabat…
Waktu terus Berjalan
Bumi terus mengintari sosok Surya
Angin mengalir ke berbagai pelosok
Hati kadang tak nyaman akan sangkaan
Sangkaan yang mmebuatmu berubah
Namun… berubahlah dengan elok
Seelok Kedamaian yang kau Idamkan
.
Dimanakah Tuhan yang kau Akui?
Jika engkau mendewakan Egomu
Membuat kotor mereka yang telah berlindung
Mengaduk Perih keunikan yang telah serasi
.
Duhai Jiwa yang butuh Kawan
Carilah jiwa yang membuatmu Nyaman
Bukan dengan cara seperti hewan
Hingga kau terkenal karena Sikap Setan
Semoga Engkau Segera menemukan Kenikmata
Dalam Agama atas Nama Tuhan
.
Indah nian sikapmu jika Rupawan
Elaborasi dalam jiwa setiap Insan
Tak sekedar Nama yang membuatmu Terkenal
Namun juga kebaikanmu yang kental

–

Puisi Headline Kompasiana

Jaga Selalu Hatimu

Jaga Selalu Hatimu
Jaga Hati agar menderu keindahan
Jaga Lisan agar terpatri kenyaman
Terus mengolah kehidupan
Meratap dalam kehampaan
Hampa karena perbuatan
Perbaiki dengan kebaikan

Bertrilyun orang bicara tiap hari
Entah ada isi atau hanya secuil materi
Katanya hanya ocehan tentang imaji
Jaga pandangan agar tak terbayang misteri

Jiwa-jiwa terhormat menikmati kehidupan
Remuk pongah bagaikan makanan
Padahal dia tahu, kehormatan bukan segalanya
Semoga kehormatan tak jadikannya sayur bayam

Hatimu atau juga hatiku tersimpan dalam ruang gelap
Namun dari situ terpancar berbagai hal kebijaksanaan
Arus air mungkin deras, namun dirimu nyaman dengan hati baik
Koreksi diri saat hati tak merasa terjaga
Hilang karena derasnya feses pada arus air

–

Selamet Hariadi | *5 September 2013

 

Manja

Saat itu…
Manja menjadi kebutuhan diri
Perhatian begitu besar pada pertumbuhan
Merajut kehidupan… merangkai rangka jiwa

Merajuk, membuat rasa nyaman keluarga
Menyenangkan saat mereka menuruti
Bangga saat pujian terlantun lembut
Semangat membangun dalam nikmatnya kehidupan

Manjanya perhatian
Melukiskan elaborasi candaan
Indah rasanya bila disertai senyuman
Menggulung nilai materi untuk kesenangan

Salam Sayang untuk mereka…
Mereka yang seharusnya diperhatikan
Membalas lebih baik tak sekedar semangka
Kehidupan mereka yang harusnya sekarang nyaman

Maaf bila terlalu memikirkan kawan
Padahal hanya sekadar makan bakwan
Mereka memberikan waktu pemikiran
Seharusnya dapat pula kebahagiaan

Oh Tuhan penguasa Alam…
Hamba mohon bantuan
Mencerahkan kehidupan
Untuk semua Insan
Terutama mereka yang memikirkan
Imaji masa membuat terlupa mereka
Mereka yang harus dan harus santai

Parlemen Jalanan

parlemen Jalanan Puisi.SelametHariadi.com

Gedung Dewan ditutup dengan kunci
Padahal rakyat ingin sampaikan aspirasi
Tentang Hidup dan Hak Asasi
Demi hidup dengan sesuap nasi
.
Parlemen Jalanan adalah jerita Hati
Saat Wakil Rakyat tak mendengar aspirasi
Sekedar basa-basi tanpa aksi
Melucuti uang Rakyat untuk pribadi
.
Duhai Wakil Rakyat yang Baik Hati
Semoga segera terbuka Nurani
Dengan jalan dari Ilahi
Ingat Janji dulu untuk berbakti
Untuk Rakyat di seluruh negeri
.
Di dalam gedung mewah kami butuh Aksi Nyata
Buat hanya iklan yang berjuta-juta
Membuat Rakyat salah prasangka
Karena akan datang tahun Pilkada
.
Parlemen jalanan Mengingatkan janji
Janji Wakil Rakyat bukan hanya Imagi
Jaulihah darimu segala tentang Korupsi
Termasuk juga korupsi Janji
.
Rakyat tak hanya butuh Balsem
Karena hanya sementara mesem
Lalu teringat tentang usaha
Usaha yang tak hanya sementara
.
Parlemen Jalanan menggugat wakil Rakyat
Pilihan Rakyat yang hanya absen Rapat
Pemilu datang, akhirnya merapat
Setelah Pemilu tak tahu tempat
.
Parlemen Jalanan dari Sebagian Rakyat
Karena tak semua Rakyat bisa ada di tempat
Doa kami untuk sang pejuang Rakyat
Rakyat agar terangkat Harkat dan Martabat
.
Jeritan Jalanan semua terdengar ke dalam ruangan
Ruang yang penuh AC yang buat nyaman
Lihatlah keluar duhai Anggota Dewan
Rakyat butuh Perhatian bukan hanya Iklan

 

Duhai Wanita… Jagalah Jilbabmu!

Duhai Wanita… Jagalah Jilbabmu

Parasmu cantik bukan tontonan umum
Sikap agunmu bukan makanan umum
Bekerjalah dengan landasan agama
.
Duhai Wanita…
Saat kau membiarkan candaan seksualitas
Saat kau membiarkan kedekatan berlebihan
Saat kau halalkan keakraban sebagai bentuk kenyamanan komunikasi
Maka…
Semoga engkau mengkoreksi diri
Semoga ALLAH menjaga dan melindungimu
Semoga ALLAH membimbingmu selalu dalam kebaikan
.
Bising dunia jangan kau ikuti
Acuhlah pada rayuan lingkungan kurang baik
Jaga sikap, perkataan, perilaku dan hati
Jagalah Jilbabmu… Jagalah jalan kebaikan ini

—

Selamet Hariadi – 3 September 2013